Jumat, 20 Oktober 2017

Kebohongan Sesudah Kebohongan

Kebohongan Sesudah Kebohongan   

Sebuah kebohongan biasanya akan mengundang kebohongan berikutnya untuk menutupi bohong mula-mula. Jika seseorang terlanjur berbohong, dan ingin mempertahankan kebohongannya itu, mau tidak mau dia terpaksa membuat kebohongan lain untuk menutupinya. Semakin banyak kebohongan, semakin rapuhlah kebenaran pada yang berbohong. Ceritanya akan berputar-putar, yang dia sendiri seringkali tidak tahu lagi di mana awal dari cerita bohong yang dikarangnya.

Seseorang bisa berbohong untuk menipu satu orang atau bahkan untuk menipu banyak orang. Guruku di SMA dulu pernah mengajarkan sebuah ungkapan, (yang konon berasal dari ucapan seorang pemimpin Amerika) yang berbunyi; 'Engkau dapat membohongi satu orang untuk jangka waktu lama, atau membohongi banyak orang untuk jangka waktu pendek, tapi tidak akan mungkin membohongi banyak orang untuk waktu lama.' 

Kita mungkin bisa menipu seseorang untuk jangka waktu lama. Orang yang dibohongi tidak kunjung merasakan bahwa dia telah ditipu. Tapi kalau banyak orang yang dibohongi, akan muncul orang yang segera sadar bahwa yang disampaikan itu adalah kebohongan.  

Sering pula orang berbohong untuk memfitnah orang lain. Dikarangnya cerita untuk memburuk-burukkan orang lain atau kelompok lain. Untuk mendukung fitnahannya dikerahkannya segala daya dan upaya. Tidak perduli apakah ceritanya itu masuk akal atau tidak. Kejadian seperti ini semakin sering kita lihat. Ambil contoh tentang dua gedung bertingkat tinggi yang ditabrak pesawat terbang lalu kedua gedung itu rubuh seperti rubuhnya adonan kue. Kata orang Minang seperti jatuh tapai, (bayangkan tapai singkong yang lembek dijatuhkan ke lantai). Penguasa di negeri itu menggiring pendapat umum untuk menerima bahwa rubuhnya kedua gedung raksasa itu adalah karena ditabrak pesawat. Padahal para ahli konstruksi di negeri itu  membantah, mustahil bangunan yang kekar tinggi besar itu bisa dirubuhkan sampai ke lantai dasarnya dikarenakan kena tabrak pesawat di bagian tengahnya.  

Walaupun mungkin orang banyak malas membincangkannya, cerita itu tetap sebuah kebohongan. 

Bagi pembohong kalau orang lain sudah tidak lagi mengulas tentang kebohongannya, dia merasa sudah aman. Apalagi, kalau dikarenakan kekuasaannya orang banyak tidak berani lagi mengutak-utik. Dia tidak tahu bahwa sandainya dia terselamatkan di dunia, di akhirat nanti dia pasti akan dituntut di pengadilan Allah atas kebohongannya. 

****                         

Senin, 16 Oktober 2017

Modus Telepon

Modus Telepon   

Banyak di antara kita pernah mendengar seseorang minta dibelikan pulsa telepon dan membahasakan dirinya sebagai mama, papa, saudara dan entah siapa saja. Caranya dengan mengirim sms yang isinya minta diisikan pulsa nomor hp tertentu. Yang cukup lucu yang pernah aku baca, seorang 'ayah' yang minta hal yang sama, lalu dijawab oleh 'anak'nya, 'Lho, bapak kan sudah meninggal? Kok masih minta pulsa?' lalu dijawab, 'Eh, iya, ya,' Dilanjutkan lagi, 'Bapak jangan main hape melulu di sana, nanti dimarahin malaikat.' 

Nah, kali ini ada lagi permainan baru dengan hp. Bukan melalui sms tapi langsung menelpon. Beberapa kali aku menerima telepon dari orang yang tidak aku kenal tapi sok akrab. Bunyinya kira-kira sebagai berikut;

(Aku) Hallo.....  Assalamu'alaikum....

(Dia) 'Alaikum salam... Apa kabar nih? 

(A) Kabar baik.... Tapi maaf, ini dari siapa ya?

(D) Ini aku..... Lagi di mana sekarang?

Aku mulai agak bertanya-tanya, kalau-kalau ini dari seseorang yang tidak jelas.

(A) Lagi di rumah..... Maaf sekali lagi aku lupa, ini siapa sih?

(D) Ah.... mentang-mentang sudah makmur..... Sama teman akrab lupa..... Memang apa kesibukannya sekarang?

(A) Siapa bilang aku sudah makmur..... Tapi benar, aku ga ingat sama sekali suara ini.

(D) Teman di SMP dulu.... Sudah lama memang.... Coba diingat-ingat lagi....

Baiklah, kataku dalam hati. Akan aku uji.....

(A) Kamu dulu di SMP I Jambi juga?

(D) Iya..... aku dulu biasanya duduk di bangku di belakangmu.

Sebenarnya, sudah terjawab. Aku bukan sekolah SMP di Jambi....

(A) Oh iya.... aku ingat... dulu yang duduk di belakangku si Mansur.... Tapi ini pasti bukan dia.... Siapa ya...?

(D) Nah, itu sudah hampir ingat.... Aku sebangku dengan si Mansur.....

(A) Siapa ya..... tetap belum ingat....

(D) Aku, temanmu yang jadi polisi......

(A) Oh iya.... pertama aku tidak pernah sekolah di Jambi. Kedua aku tidak punya teman polisi..

(D) (memaki lalu mematikan hp).

___________________


Pada kesempatan lain aku menerima telepon yang mirip, kebetulan yang suaranya seperti suara teman yang aku kenal. Aku menyapanya dengan menyebut nama, dan sesudah itu dia menempatkan dirinya seolah-olah dia adalah orang yang aku maksud. Pembicaraannya tidak berpanjang-panjang, dia bercerita singkat bahwa sedang dalam kesulitan lalu langsung minta tolong diisikan pulsa juga. Tidak sekali juga dia menyebut namaku selama pembicaraan tersebut. Aku bertanya, apakah dia yakin mengetahui dengan siapa dia sedang berbicara. Dia jawab, 'dengan kamu, kan?' Aku tanya lagi, 'saya ini siapa menurut kamu?' Dia gelagapan, dan akhirnya mematikan hpnya. 

****                           

Selasa, 03 Oktober 2017

Mabrur Sebelum Berhaji (dari majalah Hidayatullah)

Mabrur Sebelum Berhaji (dari majalah Hidayatullah)

Seorang Asep Sudrajat (61 tahun) bersama Asih, istrinya mewakili seorang yang mabrur sebelum berhaji, insya Allah. Hampir selama 20 tahun mereka menabung demi mewujudkan cita-cita mulia. Memenuhi panggilan Allah menuju tanah suci Mekah Al Mukarramah. Niat yang kuat dibuktikan dengan usaha sungguh-sungguh. Mengumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil warung kecil mereka yang seadanya.

Rp 50,830,000 terkumpul sudah. Hampir mencukupi untuk ongkos haji yang 27 juta rupiah per orang, ketika itu. Hanya perlu menambah sedikit agar benar-benar pas. Menabung satu tahun lagi barangkali tercukupi.

Niat sudah lengkap. Tekad sudah bulat. Mereka akan segera mendaftar di hari-hari depan. Hari-hari berikutnya mereka semakin giat berdagang. Menyisahkan hasil meski kecil. Hingga suatu pagi mereka mendengar kabar bahwa Kang Endi, kawan karibnya sesama jamaah masjid Ash-Shabirin, mendadak sakit. Ia dirawat di RS Hasan Sadikin, Bandung. Asep pun segera menjenguknya.

Kang Endi dirawat di ruang ICU. Tumor ganas menyerang dan menjalar. Begitu diagnosis dokter. Bergidik Asep mendengarnya. Ia besarkan hati sahabatnya untuk sabar, tawakal dan berdoa.

Hari kedelapan Kang Endi dipindahkan ke ruang kelas 3. Kamar yang gelap, pengap, berbau tak sedap dan cukup berantakan.

Hari kesebelas, saat Asep di sana, seorang perawat membawa surat. Tawaran untuk operasi tumor ganas. Biayanya hampir 50 juta rupiah. Dengan ekonomi yang sangat terbatas, keluarga Kang Endi hanya bisa gigit jari. Kondisinya semakin parah. Badannya semakin kurus dan lemah. Sorot matanya redup dan tak bisa bicara. Terkulai tak berdaya. Di pinggir ranjang. Asep sahabatnya mengambil keputusan besar. Berpamitan pulang.

Sesampai di rumah, Asep menyampaikan keputusannya kepada Asih, sang istri. “Bu, kondisi Kang Endi semakin memburuk. Bapak tidak sanggup melihat penderitaannya,“ papar Asep sambil bercerita lirih solusi yang ditawarkan pihak rumah sakit.

“Kasihan mereka ya Pak! Kita bisa bantu apa?” tanya Asih, iba. Trenyuh. “Kalau ibu berkenan, bagaimana bila dana tabungan haji kita diberikan saja kepada mereka semua untuk biaya operasi?” Asep menawarkan. Asih sempat kaget. “Diberikan? Waduh Pak, hampir 20 tahun kita menabung. Masak cita-cita ini pupus seketika dengan membantu orang lain?” tutur Asih memelas.

“Bu, banyak orang yang berhaji tapi belum tentu mabrur di sisi Allah. Mungkin ini jalan buat kita untuk meraih keridhaan Allah. Bapak yakin, bila kita menolong saudara kita, Insya Allah, kita pun akan ditolong Allah,” nasihat Asep.

Kalimat demi kalimat dari lidah suami yang penuh wibawa itu menyirami relung hati Asih. Istri shalihah itu pun akhirnya mengangguk setuju. Esok paginya, Asep dan Asih datang ke rumah sakit. Mengajak bicara istri Kang Endi sekaligus menyerahkan uang tersebut.

Istri Kang Endi tersentak, menangis, dan tak bisa berkata apa-apa. Suasana haru menyelimuti mereka. Uang itu dibawa ke bagian administrasi. Formulir diisi. Besok paginya jam 08.00 operasi tumor pun dijalani. Alhamdulillah.

Esoknya, sebelum operasi, dokter spesialis tulang yang selama ini menangani Kang Endi sempat berbincang dengan pihak keluarga. “Doakan ya agar operasi berjalan lancar! Oh ya, kalau boleh tahu, dari mana dana operasi ini?” tanya dokter yang tahu persis kondisi ekonomi keluarga Kang Endi.

“Alhamdulillah. Ada seorang tetangga kami yang membantu Dok. Namanya Pak Asep,” jawab istri Kang Endi.

“Memangnya, beliau usaha apa? Kok mau membantu dana hingga sebesar itu?” Di benak sang dokter, pastilah Asep seorang pengusaha sukses.

“Dia cuma usaha warung kecil saja kok di dekat rumah kami. Saya sendiri nggak percaya waktu dia dan istrinya memberikan bantuan sebesar itu,” tambahnya.

Alhamdulillah. Akhirnya operasi berjalan lancar. Seluruh keluarga, dokter dan perawat merasa gembira. Kang Endi tinggal menjalani masa penyembuhan pasca operasi. Selama itu, Pak Asep masih sering menjenguknya.

Suatu hari Asep dan sang dokter yang sedang memeriksa Kang Endi pun berkenalan. Dokter memuji kemurahan hati Pak Asep. Pak Asep hanya mampu mengembalikan pujian itu kepada Allah. Dokter itu kemudian meminta alamat Asep.

Beberapa pekan berlalu, Kang Endi sudah pulang dari rumah sakit. Malam itu, Asep dan Asih tengah berada di rumahnya. Warung mereka belum lagi tutup. Tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan pagar rumah mereka. Namun Asep dan Asih tak bisa mengenali mereka. Begitu mendekat, tahulah Asep pria yang datang adalah dokter yang merawat Kang Endi. Ia datang bersama istrinya.

Asep kikuk saat menerima mereka. Seumur hidup belum pernah menerima ‘tamu besar’ seperti malam itu. Mereka pun dipersilahkan masuk. Diberi sajian ala kadarnya. Mereka terlibat pembicaraan hangat. Asep pun menanyakan maksud kedatangan mereka. Dokter mengungkapkan niat mereka bersilaturrahim seraya menyatakan keharuannya terhadap pengorbanan Asep dan istrinya. “Kami ingin belajar ikhlas seperti Pak Asep dan Ibu,” ungkap sang dokter penuh perasaan. Asep mengelak. Merendah.

“Pak Asep dan Ibu, saya dan istri berniat menunaikan haji tahun depan. Saya mohon doa Bapak dan Ibu agar perjalanan kami dimudahkan oleh Allah Ta’ala. Saya yakin doa orang-orang shalih seperti Bapak dan Ibu akan dikabulkan Allah,” lanjut sang dokter. Berkali-kali Asep dan Asih mengaminkan, walau ada sedikit rasa sedih dan getir. Sebab tahun depan mereka juga seharusnya bisa berangkat ibadah haji.

“Tapi, supaya doa Bapak dan Ibu semakin dikabulkan oleh Allah, bagaimana jika Bapak dan Ibu berdoanya di tempat-tempat yang mustajab?” papar sang dokter sambil menatap Asep dalam-dalam.

Asep sempat bingung, tapi ia beranikan diri untuk bertanya. ”Maksud Pak Dokter?”

“Maksud kami, izinkan saya dan istri mengajak Bapak dan Ibu untuk berhaji bersama kami dan berdoa di sana sehingga Allah mengabulkan doa kita semua,” tutur sang dokter penuh suka cita.

Asep dan Asih tiba-tiba diam. Saling berpandangan. Hening. Tak ada jawaban dari Asep dan Asih. Hanya ada derai air mata Asep dalam pelukan erat sang dokter, dan uraian tangis haru Asih dalam pelukan istri sang dokter. Dan, di ujung malam itu, tangis Asep dan Asih semakin meledak dalam sujud-sujud yang teramat syahdu dan dalam pijar-pijar syukur yang menyala indah.

***

Subhanallah wa Alhamdulillah. Tiada kata yang bisa mewakili kecuali hanya kepada keagungan Allah kita memasrahkan diri.

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, nisacaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” ( Q. S. Muhammad : 7).

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “ Barang siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan berbagai kesulitannya pada hari kiamat. Dan barang siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat” (HR. Muslim). Wallahu’alam bishshawab…

(Kisah nyata dikutip dari majalah Hidayatullah edisi Desember 2007)

Sabtu, 30 September 2017

Rokok Dan Perokok Di Indonesia

Rokok Dan Perokok Di Indonesia    

Aku mendapat kiriman postingan dari seorang rekan tentang jumlah perokok di Indonesia yang mencapai 90 juta orang dan bahwa Indonesia merupakan negara dengan perokok terbesar di dunia. Angka yang sungguh sangat mencengangkan, meski aku kok ya kurang terlalu yakin keabsahannya. Seandainya angka itu benar, itu berarti bahwa lebih dari satu di antara tiga orang Indonesia secara keseluruhan, laki-laki dan perempuan, termasuk bayi-bayi sampai orang-orang tua renta adalah perokok. Rasa-rasanya pernyataan itu tidak masuk di akal. Paling tidak, tidak masuk di akalku.

Sepengamatanku, di kalangan orang-orang yang akrab denganku, jumlah perokok justru semakin berkurang. Karena sekarang kebebasan untuk merokok sangat dibatasi. Orang tidak bisa merokok di sembarang tempat sesukanya. Ada ancaman hukum bagi yang melanggar ketentuan tersebut. Umumnya kantor-kantor, tempat-tempat umum yang banyak orang, memberlakukan larangan merokok dengan ketat. Di bandara misalnya, disediakan sebuah ruangan kaca berukuran kecil untuk perokok dan di luar itu jangan coba-coba untuk merokok karena hal tersebut terlarang.

Aku sendiri pernah jadi pecandu rokok dan alhamdulillah berhasil menghentikan kebiasaan tersebut hampir 30 tahun yang lalu (di tahun 1988). Dahulu merokok adalah sesuatu yang sangat biasa dan perokok bebas untuk menghisap rokok di mana saja. Di pesawat udara, di kereta api, di bus, di kantor, di kamar hotel. Bahkan ada teman yang mengoleksi (sambil menguntil sepertinya) asbak dari hotel-hotel terkenal. Di kantorku waktu itu aku punya asbak besar (berlogo maskapai penerbangan) hadiah dari teman perokok. Ketika itu belum ada peringatan yang ditulis di bungkus rokok tentang bahaya merokok untuk kesehatan. 

Sebagai mantan perokok, aku menyadari betul betapa jahat dan buruknya kebiasaan merokok. Pernah aku sekeluarga (dengan tiga anak yang masih kecil-kecil) bepergian jarak jauh dalam mobil yang jendelanya tertutup (di musim dingin) aku masih tetap merokok. Tentu saja udara dalam mobil itu jadi pengap dan tidak sehat. Aku 'terpaksa' harus merokok sambil menyetir untuk melawan kantuk dan rasa jenuh. Istri dan anak-anakku 'terpaksa' menerima kenyataan itu. Betapa zhalimnya aku ketika itu. 

Alhamdulillah, dengan izin Allah aku berhenti merokok sejak bulan Agustus tahun 1988. Berawal dari 'keracunan' rokok usang, yang entah kenapa, secara berkala terjadi di pasaran. Di manapun rokok dengan merek yang sama dibeli, semuanya usang dan menyakitkan hidung ketika dihisap. Dan aku sangat fanatik dengan merek rokok. Aku biasanya sangat uring-uringan kalau masa rokok usang itu terjadi. Di bulan Agustus tahun 1988 itu adalah yang paling buruk, sampai aku dapat flu berat. Sehingga akhirnya aku memutuskan untuk berhenti 'sementara' merokok. Setelah berhenti dua tiga hari, terpikir untuk benar-benar berhenti. Dan itulah yang terjadi. Setelah berhasil menghindari rokok selama sebulan (dengan cukup berat tentu saja) aku peringatkan diriku, kapan saja aku mencoba sebatang rokok, maka niscaya aku akan kembali jadi perokok. Peringatan itu aku pelihara sampai sekarang.

Lalu, benarkah satu di antara tiga orang Indonesia sekarang ini pecandu rokok? Mungkin ada yang bisa menjawab.

****

Kamis, 28 September 2017

Diskusi Ceramah Ustadz Di Youtube

Diskusi Ceramah Ustadz Di Youtube  

Seorang jamaah dari ustadz (yang sedang cukup populer di Youtube) bertanya tentang; kenapa ada yang mengatakan bahwa bershalawat kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam tidak seharusnya menambahkan kata sayyidina. Jadi cukup dengan ucapan Allaahuma shalli 'alaa Muhammad (tanpa sayyidina). Jawab ustadz, kenapa tidak boleh? Bahkan Rasulullah sendiri menyatakan bahwa beliau adalah sayyidul mursaliin atau pemuka para rasul...   

Sepertinya jawaban ustadz ini sudah cukup meyakinkan. Namun, bagiku ini masih kurang pas. Aku membaca di dalam kitab hadits Muslim, hadits nomor 361, yang isinya seorang sahabat bernama Basyir bin Sa'ad bertanya kepada Nabi. Kami disuruh bershalawat kepada anda ya Rasulullah, bagaimana caranya kami bershalawat. Lalu Nabi menjawab pertanyaan tersebut dengan membacakan: Allahumma shalli 'alaa Muhammad wa 'alaa aali Muhammad. Kamaa shallaita 'alaa aali Ibrahim. Wa baarik 'alaa Muhammad wa 'alaa aali Muhammad. Kamaa barakta 'alaa aali Ibrahim. Fil 'aalamiina innaka hamiidum majiid.'  

Jadi yang beliau ajarkan memang tidak ditambah dengan sayyidina. 

Tapi kan itu bentuk penghormatan kita kepada beliau. Masakan kepada Nabi yang sangat kita cintai kita hanya menyebut nama beliau saja. Biasanya begitu hujjah berikutnya. Lha, yang diajarkan begitu? 

Waktu mengawali shalat kita bertakbir mengagungkan nama Allah dengan ucapan Allahu Akbar. Begitu kita diajarkan oleh Rasulullah. Padahal Allah, Yang Maha Besar juga adalah Yang Maha Tinggi. Lalu apakah kita boleh mengawali shalat dengan bacaan Allahu Akbar wa A'laa..  Tentu tidak boleh karena bukan seperti itu yang diajarkan.  

Mendengarkan ceramah-ceramah (di Youtube) itu seringkali cukup mencerahkan, tapi kita juga harus kritis dalam memahaminya. Sering juga terdengar ustadz-ustadz itu lebih menonjolkan 'kita kan pengikut mahzab.......' dan hanya mencukupkan jawaban seperti itu saja, tanpa dalil dan keterangan yang lebih jelas. Misalnya, ketika mengatakan suatu pendapat tidak dengan merujuk kepada ayat al Quran dan atau hadits shahih, tapi hanya sekedar mengatakan ini adalah pendapat imam.... Seharusnya imam .... itu tentunya juga mendasarkan pendapatnya kepada al Quran dan hadits, tapi oleh sebahagian ustadz itu tidak dijelaskan ayat al Quran atau hadits shahih yang mana. 

****                             

Senin, 25 September 2017

Pasangan Yang Berkhianat

Pasangan Yang Berkhianat       

S adalah seorang tukang langgananku sejak lama untuk aneka perbaikan rumah, mulai dari perbaikan kecil sampai perbaikan cukup besar. Kalau pekerjaan cukup besar, yang memerlukan beberapa hari kerja, biasanya dia membawa asisten atau pembantu tukang. Suatu ketika dia memperkenalkan pembantunya yang adalah anaknya sendiri. Waktu itu aku sekedar minta penjelasan, karena menurut dia istrinya adalah orang dari Sumatera, apakah asisten yang adalah anaknya itu pandai berbahasa ibunya. S yang memang suka bercerita (dan aku biasanya mau jadi pendengar yang baik) bahwa itu adalah anak dengan istrinya yang pertama. Aku tanya lagi, apakah mereka bercerai dan S menikah lagi dengan istrinya yang sekarang? Dia jawab iya. Mantan istrinya itu dulu berkhianat, begitu katanya. Berkhianat bagaimana, tanyaku. Dia berselingkuh, pak, kata S menjelaskan.

Begitu rupanya. Ternyata urusan selingkuh itu tidak dimonopoli oleh orang-orang berkelas tertentu saja. 

Ada pembantu tetangga yang sudah bekerja cukup lama. Lalu tiba-tiba tidak pernah kelihatan. Rupanya dia berhenti. Aku pikir, pembantu bisa saja pindah kerja karena tiba-tiba jadi tidak betah. Tapi beberapa hari yang lalu istriku bercerita bahwa si pembantu tetangga itu ternyata berselingkuh. Astaghfirullah. Ternyata, menurut istriku, suami dan anak si pembantu itu minta tolong agar majikannya (tetangga kami itu) menasihatinya. Yang ternyata tidak mempan. Dia tetap pergi dengan pasangan barunya, meninggalkan suami dan anak-anaknya. 

Selingkuh artinya berkhianat kepada pasangan (suami atau istri) untuk menjalin hubungan terlarang dengan orang lain. Jika seorang suami, menjalin hubungan tersebut dengan wanita lajang, yang dikatakan berselingkuh adalah si suami itu. Si wanita pasangannya dikatakan sebagai 'selingkuhan' saja. Jika kedua orang yang menjalin hubungan itu masing-masing punya pasangan (resminya) keduanya dikatakan berselingkuh.  

Lalu timbul pertanyaan apakah seorang laki-laki yang menikah siri itu dapat juga dikatakan berselingkuh? Kalau dia menikah, meskipun dilakukannya secara diam-diam alias siri, tidak bisa dikatakan bahwa dia berselingkuh. Karena selingkuh sekali lagi adalah menjalin hubungan terlarang alias berzina. 

Kenapa orang berselingkuh? Secara ringkas karena tidak punya iman. Karena tidak takut melakukan perbuatan dosa lau memperturutkan hawa nafsu belaka.

****                           

Minggu, 24 September 2017

Iklan Dan Informasi Spektakuler Melalui Internet

Iklan Dan Informasi Spektakuler Melalui Internet  

Maraknya penggunaan gadget untuk masuk ke jaringan internet rupanya jadi kesempatan emas bagi sementara orang untuk beriklan atau berbagi informasi, terutamanya menyangkut obat dan pengobatan. Banyak sekali informasi tentang 'obat-obat ajaib' yang konon sangat ampuh untuk menyembuhkan penyakit-penyakit tertentu seperti asam urat, diabetes, gangguan pencernaan dan sebagainya. Informasi itu biasanya sangat bombastis, disebutkan mampu menghilangkan penyakit-penyakit akut dalam sekejap. Sebagian bahkan dilengkapi dengan data pendukung dan bahkan pengakuan atau testimoni dari orang yang sudah mencoba menggunakannya. 

Informasi spektakuler itu kadang-kadang mengusik rasa ingin tahu kita dan menjadikan ingin mencoba. Akupun pernah tergoda untuk mencoba terapi untuk mengatasi asam urat. Hasilnya? Ternyata tidak seperti yang diharapkan. Lalu adalagi terapi petai, yang sepertinya ilmiyah. Aku coba pula (padahal aslinya aku tidak suka petai), hasilnya juga nihil.

Ada juga yang mengiklankan (dan menjual) obat-obat super ajaib. Dijual secara online. Dengan harga yang lumayan mahal. Ada obat untuk menumbuhkan rambut. Obat untuk jadi laki-laki perkasa di ranjang. Iklannya sangat spektakuler. Tapi bisakah keampuhannya dibuktikan? Wallahu a'lam, meski rasa-rasanya bunyi iklannya itu 'too good to be true'. 

Inilah yang seharusnya jadi acuan. Kalau bunyi iklannya itu terlalu mengada-ada, sebaiknya tidak usah dipercaya. Mengada-ada bagaimana? Contoh, maaf, ada obat untuk menambah ukuran alat vital laki-laki bahkan dalam waktu singkat. Ini logikanya bagaimana? Tapi iklan seperti ini tanpa diundang seringkali muncul di monitor gadget. Dan boleh jadi ada orang yang penasaran lalu mencoba mengkonsumsinya.

Apakah obat-obat ajaib yang diiklankan secara spektakuler itu tidak berbahaya? Entah jugalah. Aku teringat cerita tukang obat yang biasa beratraksi (menarik perhatian orang sebelum menjajakan obatnya) di tengah pasar waktu aku remaja dulu. Bahkan ada cerita konyol tentang tukang obat yang menjual pil cik kam, dan dibeli orang juga. Apa itu pil cik kam? Pil cirit kambing. Ya, kotoran kambing yang bulat-bulat berwarna hijau kumuh. Entah cerita ini benar atau tidak aku tidak tahu. 

****